Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Agustus 2018

Terbaru 2020 - Kepemimpinan Umar bin Khottob ra

Berita Islam




Saat itu Beliau menangis memikirkan bagaimana jika seandainya ada satu ekor keledai yang terperosok dijalan berlubang. Atau saat Beliau menggendong sekarung gandum yang akan diberikan pada seorang ibu yang kedapatan oleh Beliau memasak kerikil dalam kuali demi membohongi anaknya yang kelaparan dan meminta makan.

Atau saat beliau memberikan sebuah tulang unta yang telah digores lurus oleh pedangnya yang diberikan kepada seorang Yahudi untuk disampaikan kepada gubernur Amr bin Ash ra.

Sedikit kejadian yang tertulis diatas menunjukan tingginya kualitas kepemimpinan Umar bin Khattab ra dengan tingkat pemikiran dan keimanan yang sangat tinggi.

Hal ini menunjukkan betapa beliau sangat faham makna dari politik yaitu mengurusi urusan umat. Juga menunjukan betapa beliau sangat memahami betapa berat konsekuensi yang akan diperoleh oleh seorang pemimpin jika sampai ada satu manusia yang mengadu kepada Allah SWT atas kerusakan, kezaliman dan ketidakadilan yang dibuat sebab kepemimpinnya. Ngeri, apa sebab ?, karena Allah SWT akan menjauhkan surga dari pemimpin -pemimpin yang dzolim. Umar bin Khattab sangat memahami hal tersebut.

Wilayah kekuasaan Umar bin Khattab sangat luas. Dakwah dan jihad dilaksanakan denggan sungguh-sungguh, apa sebab ?, karena beliau sangat memahami tidak ada yang lebih indah untuk disampaikan kepada umat manusia selain Islam. Islam akan membebaskan umat manusia dari penghambaan kepada sesama umat manusia. Islam akan membuka banyak jalan kebaikan bagi umat manusia. Walaupun Islam tidak pernah memaksa satu umatpun untuk masuk kedalamannya kecuali dengan keridloannya, kecuali dengan keiikhlasannya. Ini yang dibuktikan oleh Umar bin Khattab ra.
Beliau bergerak berdakwah dan berjihad menyampaikan Islam hingga cahayanya masuk ke negeri Syam.

Khalifah Umar bin Khattab ra sangat memahami bahwa ditangan dan dipundak kepemimpinannya harus terbuka jalan jalan kebaikan untuk umat manusia, maka beliau membuka jalan jalan kebaikan itu. Beliau sangat faham jika rezeki sebagai jaminan dari Allah SWT harus datang dengan wasilah kebijakan yang memudahkan manusia untuk memperolehnya bukan dengan menyulitkannya.

Maka wajarlah jika peradaban hidup yang dibangun dimasanya adalah peradaban manusia yang sangat tinggi. Keadilan, kemaslahatan dan keberkahan hidup dirasakan seluruh umat manusia dibawah kepemimpinannya.

Berbanding terbalik dengan kondisi peradaban manusia saat ini, yang penuh dengan kerusakan dalam tatanan kehidupan masyarakatnya, baik dari sisi politik, hukum dan sosial kemasyarakatan.

Maka sudah sepatutnya para pemimpin saat ini, berkaca dan belajar dari kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab ra yang ditulis dengan tinta emas sejarah tentang keberhasilan kepemimpinannya.

Benarlah apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah Muhammad saw, bahwa manusia selamanya tidak akan tersesat selama berpegang teguh dengan dua hal yaitu Kitabullah wa Sunnaturrasul. Kegemilangan kepemimpinan Umar bin Khattab ra telah membuktikannya, dan umat manusia akan menjadi saksi kebaikan kepemimpinannya dizamannya didunia hingga kelak saat dibangkitkan kembali di yaumil akhir. wamataufiki illabillah.

Oleh: Ayu Mela Yulianti, SPt voa-islam.com

Sabtu, 04 Agustus 2018

Terbaru 2020 - Solusi Dalam Keadaan Terjepit

Berita Islam




🌹 بسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

🌹 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tatkala Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam telah terpojok di dalam gua Tsaur, dan sahabat Abu Bakar radhiallahu 'anhu mulai galau, merasa sesaat lagi akan tertangkap.
.
Pada saat kritis semacam ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan keteladanan sikap yang benar dengan bersabda:
.
يَا أَبَا بَكْرٍ مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا
.
Wahai Abu Bakar, apa pradugamu dengan dua orang yang selalu didampingi oleh Allah dengan pertolongan-Nya ? (Mutafaqun 'alaih)
.
Keteladanan di atas benar-benar telah dijiwai oleh para sahabat, sehingga pada saat peperangan seusai perang Uhud, sebagian insan media utusan Quraisy berusaha meruntuhkan mentalitas ummat Islam. Media Quraisy tersebut berkata: "Sesungguhnya seluruh manusia telah bersatu padu memerangi kalian".
.
Namun di luar dugaan, dengan tetap tenang, tanpa ada rasa takut sedikitpun, para sahabat menjawab insan media utusan Quraisy tersebut dengan berkata:
.
حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
.
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."
.
Dan ternyata hasilnya luar biasa; pertolongan Allah benar benar menyertai mereka:
.
فَانقَلَبُواْ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُواْ رِضْوَانَ اللّهِ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ
.
Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Ali Imran 173-174)
.
Sobat! Mari kita selesaikan berbagai problematika dan tantangan hidup ini dengan kembali kepada Allah Ta'ala. Letakkan segala daya dan upaya yang anda miliki, dan segera sandarkan diri anda kepada daya dan pertolongan Allah Ta'ala, percayakan segala urusan anda kepada-Nya, niscaya anda bahagia. (fb)

Selasa, 31 Juli 2018

Terbaru 2020 - Kisah Khansa Binti Amr RA

Berita Islam




Tumadhir binti Amr bin Harits, atau lebih dikenal dengan nama Khansa adalah seorang penyair wanita yang cukup terkenal pada masa jahiliah. Ketika Nabi SAW telah berada di Madinah, bersama beberapa orang kaumnya dari kabilah Bani Sulaim, ia datang menghadap beliau untuk memeluk Islam. Ia mempunyai empat orang anak lelaki yang kesemuanya ikut memeluk Islam, dan berhijrah untuk tinggal bersama Nabi SAW di Madinah.

Kemampuan Khansa melantunkan syair cukup dikagumi Rasulullah SAW. Ketika Adi bin Hatim memeluk Islam, ia mengatakan kepada Nabi SAW, bahwa penyair paling ulung adalah Amr al Qais, orang yang paling pemurah adalah Hatim bin Sa’d dan penunggang kuda paling pandai adalah Amr bin Ma’dikarib. Tetapi Nabi SAW bersabda, “Wahai Ibnu Hatim, bukan mereka!! Penyair paling ulung adalah Khansa binti Amr, orang yang paling pemurah adalah Muhammad (Rasulullah SAW), dan orang yang paling pandai menunggang kuda adalah Ali bin Abu Thalib..!”

Sungguh penghargaan yang sangat tinggi terhadap Khansa, karena beliau ‘mensejajarkan’ namanya dengan nama beliau sendiri dan Ali bin Abu Thalib.

Sejak keislamannya, Khansa tidak hanya bersemangat dalam melantunkan syair, tetapi ia terjun dalam beberapa medanpertempuran, baik ketika bersama Rasulullah SAW ataupun setelah beliau wafat. Dengan syair-syairnya, ia membangkitkan dan membakar semangat para sahabat untuk terus berjuang menegakkan kalimat-kalimat Allah. Terkadang ketika pasukan dilanda kelelahan dan kejenuhan, ia juga melantunkan syair-syairnya sehingga mereka kembali segar dan bersemangat

Ketika terjadi perang Qadisiyah pada tahun 16 H, pada masa khalifah Umar bin Khaththab, Khansa memotivasi anak-anaknya untuk turut serta dalam perang tersebut. Keahliannya bersyair digunakannya untuk mempengaruhidan memberikan semangat jihad pada mereka. Diingatkannya tentang kemuliaan berjuang di jalan Allah, keteguhan ayah dan paman-pamannya dalam membela agama Allah. Sampai akhirnya ia berkata, "Jika besok kalian bangun dalam keadaan sehat, berjihadlah kalian dengan penuh keberanian dan dengan mengharap pertolongan Allah. Majulah dengan semangat juang yang tinggi, dan masuklah dalam pertempuran, lawanlah para pemimpin orang-orang kafir itu, insya Allah kalian akan masuk surga dengan penuh kemuliaan dan kehormatan."

Ucapan-ucapannya tersebut dirangkaikannya dalam sebuah rangkaian syair yang sangat indah, dan amat membekas di hati putra-putranya sehingga semangat mereka begitu menggelora untuk segera terjun dalam pertempuran tersebut. Keesokan harinya, mereka berempat berjuang dengan perkasa melawan pasukan Persia. Mereka bertempur sambil membaca syair-syair ibunya, sampai akhirnya satu persatu mereka menemui syahidnya.

Ketika berita ini disampaikan kepada Khansa, sang ibu yang kehilangan empat putranya tersebut sama sekali tidak bersedih, justru ia bersyukur dan berkata, "Alhamdulillah, Segala Pujian hanya kepada Allah, yang telah memuliakan aku, dengan menjadikan anak-anakku sebagai syuhada’. Semoga dengan syahidnya mereka, dosa-dosaku akan diampuni oleh Allah, dan aku berharap dengan rahmat-Nya, agar bisa dikumpulkan dengan mereka di surga-Nya."Setelah hidup menyendiri, Khansa tetap mengabdikan dirinya membakar semangat kaum muslimin dengan syair-syairnya. Umar sangat menghargai dan selalu memberi santunan kepada Khansa, sebagaimana dahulu Rasulullah SAW melakukannya. Tidak lama setelah Utsman bin Affan menggantikan Umar, Khansa wafat di sebuah perkampungan Badui, yakni pada tahun 24 H.

Baca Juga: Kisah Shahabiyah Pemakan Hati Singa

Postingan (Artikel) Bagian Pertama Silakan Copas di Sini
1
2
3

Senin, 30 Juli 2018

Terbaru 2020 - Sosok Pemimpin Sejati

Berita Islam




Ramai orang dewasa ini berebut-rebut hendak menjadi pemimpin atau ketua. Bagi mereka yang menyedari tentang besarnya risiko memegang jawatan sebagai ketua sudah tentu keberatan menerima jawatan tersebut. Saiyidina Abu Bakar sendiri semasa hendak meninggal dunia, mengeluh dan kesal kerana dilantik sebagai ketua (khalifah).

Begitu juga dengan Saiyidina Umar yang dilantik sebagai khalifah selepas kematian Saiyidina Abu Bakar. Saiyidina Umar sangat mengambil berat tentang kebajikan rakyatnya. Pada suatu malam sedang dia meronda di sekeliling kota dan kampung untuk melihat hal rakyatnya, dia terdengar tangisan kanak-kanak. Saiyidina Umar menghampiri pondok buruk tempat tinggalnya kanak-kanak itu.

Dia mendengar ibunya menjerang sesuatu. Kanak-kanak tadi senyap seketika apabila melihat ibunya sedang memasak. Namun masakannya tidak siap-siap sehinggalah anaknya tertidur dalam kelaparan. Melihat keadaan yang menyayat hati itu, Saidinia Umar memberi salam dan meminta izin untuk masuk. Wanita itu tidak sedar bahawa tetamu itu ialah Saiyidina Umar. Saiyidina Umar bertanya tentang hal kehidupan wanita itu. Wanita itu mengadu yang dia dan anaknya sudah berhari-hari tidak makan. Apabila anaknya menangis hendakkan makanan, dia pura-pura memasak dengan memasukkan beberapa ketul batu ke dalam periuk. Melihat keadaan itu, anaknya diam sebentar kerana menyangka ibunya memasak sesuatu.

Wanita itu mengadu dan mengutuk Khalifah Saiyidina Umar kerana tidak bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Mendengar kutukan wanita itu, Saiyidina Umar terdiam sejenak. Sebentar kemudian, dia memohon diri meninggalkan keluarga wanita itu. Dalam kegelapan malam, Saiyidina Umar terus menuju ke Baitul Mal lalu mengambil sendiri beberapa pundi gandum untuk dihantar ke rumah wanita itu.

Sebaik sampai di rumah wanita itu, Saiyidina Umar memberi salam dan masuk ke rumahnya buat kali kedua. Dia mengambil gandum dari pundi lalu terus memasakkan untuk wanita dan anaknya. Wanita itu masih tidak sedar bahawa orang yang datang membawa gandum dan memasak itu ialah khalifah sendiri. Setelah siap, Saiyidina Umar sendiri menghidangkan makanan untuk wanita dan anaknya.

Melihat mereka gembira mengadap makanan, Saiyidina Umar berasa amat senang hati dan beredar dari situ. "Kalaulah Saiyidina Umar buat begini, alangkah baiknya....", kata wanita itu tanpa menyedari orang yang berada di hadapannya ialah Saiyidina Umar sendiri.


Moral & Iktibar

Tanggungjawab sebagai pemimpin amat berat. Mengikut Nabi Muhammad s.a.w. Setiap kita adalah gembala dan akan ditanya tentang haiwan gembalaannya. Ini bermaksud kita akan dipersoalkan tentang orang di bawah jagaan/tanggungan kita.

Pemimpin yang benar-benar bertanggungjawab terhadap rakyat sentiasa memastikan kebajikan mereka dijaga dengan baik.

Pemimpin tulen ialah mereka yang sentiasa mengutamakan kebajikan rakyat terutama yang msikin lebih daripada kepentingan sendiri.

Amalan yang ikhlas tanpa mengharapkan pujian makhluk adalah satu amalan yang terpuji.

Setiap pemimpin (raja, menteri, atau wakil rakyat) sepatutnya sanggup turun padang setiap ketika untuk melihat sendiri kehidupan rakyat dan hulurkan bantuan kepada mereka yang miskin dan memerlukan dengan ikhlas kerana Allah, bukan mengharapkan pujian dan sanjungan.

Kegagalan seseorang pemimpin mentadbir negara dengan adil dan saksama akan menyebabkan dirinya jauh dari syurga dan hampir dengan neraka.

Walau setinggi manapun pangkat dan darjat kita tidak akan dinilai Allah. Apa yang diambil kira ialah amalan yang diikhlaskan untuk Allah.

Untuk keselamatan dunia dan akhirat hendaklah kita mencontohi pekerti Nabi Muhammad dan sahabat-sahabat Baginda.
Pemimpin yang baik ialah mereka yang sanggup mendengar kritikan rakyat jelata serta mengambil tindakan segera untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Baca Juga: Kisah Khalifah Umar Bin Khattab ra.



Sabtu, 21 Juli 2018

Terbaru 2020 - Kisah Fatimah Ra: Pemberian yang Mendatangkan Rahmat

Berita Islam



Suatu waktu, ada yang mengetuk pintu rumah Fatimah Ra. Ternyata yang bertamu adalah orang tua dengan pakaian compang-camping. Sepertinya ia baru melakukan perjalanan jauh yang telah membuat segala yang dimilikinya yang semakin menua dimakan umur.

Lalu, Fatimah menanyakan keperluan orang tua itu bertamu. Orang tersebut menceritakan nahwa ia telah bertemu Rasulullah Saw. mengadukan keadaannya yang kelaparan dan kehabisan bekal untuk pulang kerumah. Dan atas saran beliau, ia menemui Fatimah untuk minta bantuan.

Mendengar penuturan orang tua itu, Fatimah pun bingung. Sebab, dirinya juga tidak mempunyai persediaan makanan ataupun uang untuk diberikan kepada orang tua itu. Untuk hari itu saja, ia belum makan, karena memang tak ada sesuatu yang bisa dimakan. Pikir Fatimah, apabila ia mengusirnya, tentu saja orang tua itu akan semakin bertambah kesengsaraannya.

Tak beberapa kemudian, Fatimah baru ingat bahwa beberapa hari yang lalu, ia pernah dihadiahi sebuah kalung oleh putri Hamzah bin Abdul Muthalib. Tanpa merasa berat sedikitpun, demi menolong orang tua itu, ia memberikan satu-satunya harta berharga yang dimilikinya.

"Juallah kalung ini Insya Allah, engkau dapat memenuhi semua kebutuhan dan bisa pulang kerumahmu," kata Fatimah.

Setelah menerima pemberian Fatimah, laki-laki tua itu pergi ke masjid. Saat itu, Rasulullah Saw. masih duduk bersama para sahabat. Kemudian, ia memberitahukan pemberian Fatimah kepada Rasulullah Saw. sambil berkata,

"Wahai Rasulullah, putrimu Fatimah telah memberikan klung ini kepadaku untuk dijual demi memenuhi segala kebutuhanku."

Mendengar perkataan orang itu, kedua mata Rasulullah Saw. terlihat berair dan terisak-isak. Beliau tahu tentang kalung itu yang sangat disenangi oleh putrinya itu, namun direlakan untuk diberikan demi membantu orang yang tidak mampu. Melihat hal itu, seorang sahabat yang bernama Amar bin Yasir minta izin kepada beliau untuk membelinya. Setelah itu diizinkan, lalu ia menanyakan harga kalung tersebut.

Halaman Selanjutnya...


Sabtu, 14 Juli 2018

Terbaru 2020 - Bilal Yang Berpegang Teguh Kepada Keimanan

Berita Islam


Saiyidina Bilal (berkulit hitam) adalah di antara 7 orang yang pertama menzahirkan keIslaman secara terangan meskipun diancam oleh kafir musyrik. Apabila mengetahui hambanya, Bilal telah memeluk Islam, tuannya telah menyeksa Bilal dengan memakaikan baju besi dan kemudian dijemur di padang pasir yang sangat panas. Ketika ditanya tentang pegangan agamanya, Bilal tetap mengatakan 'Ahad! Ahad!' (Allah Yang Esa, Yang Esa).

Bilal kemudian diseret hingga ke lereng-lereng gunung tetapi Bilal tetap memperkatakan 'Ahad! Ahad!'. Imannya tidak bergoncang sedikitpun. Melihatkan tidak apa perubahan berlaku dalam diri Bilal, mereka kemudian mempertingkatkan seksaan dengan meletakkan batu besar di atas badannya yang terjemur di tengah kepanasan matahari. Namun tiada ucapan lain yang keluar dari mulut Bilal kecuali 'Ahad! Ahad!' Bilal rela mati daripada menukar pegangan agamanya yang haq kepada yang bathil.

Apabila Saiyidina Abu Bakar diberitahu tentang seksa yang dialami oleh Bilal, Abu Bakar terus berjumpa Umaiyah yang sedang menyeksa Bilal dan kemudian meminta Bilal dibebaskan. Sebagai ganti Abu Bakar menyerahkan seorang hamba hitam yang lebih kuat sebagai tebusan. Sebaik saja ditebus, Saiyidina Abu Bakar pun membebaskan Bilal dari perhambaan.


Moral & Iktibar

Iman yang kental dan pegangan aqidah yang kukuh tidak dapat digugat sekalipun diseksa dengan pelbagai seksaan.
Kemanisan iman tidak ada tolong banding di dunia dan akhirat.
Allah tidak melihat kecantikan fizikal seseorang tetapi yang paling utama ialah kecantikan hati.
Allah mempertingkatkan tahap atau darjah keimanan seseorang, dengan mengenakan ujian dan cubaan.
Selagi tidak diuji dengan kesusahan, tahap keimanan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Bertambah kuat iman seseorang, bertambah hebat ujian yang Allah kenakan ke atasnya.
Ujian dan bala yang dikenakan ke atas seseorang bukan bererti Allah membencinya, sebaliknya ia adalah satu rahmat untuk meninggikan darjatnya di sisi Allah.
Bala sebenarnya bukan 'bala' tetapi adalah satu nikmat yang patut disyukuri.
Kekayaan dan kesenangan hidup belum tentu menjadi satu nikmat, bahkan ia satu cubaan/bala untuk menguji sama ada kita mensyukuri Allah atau sebaliknya.

Jumat, 13 Juli 2018

Terbaru 2020 - Rumah Dan Hati Yang Sempit

Berita Islam



Syahdan, di suatu masa hidup seorang laki-laki yang punya sifat kikir (pelit). Ia mempunyai sebuah rumah yang cukup besar. Di dalam rumah itu dia tinggal bersama seorang istri dan 3 orang anaknya yang masih kecil-kecil.

Laki-laki ini merasa rumahnya sudah sangat sempit dengan keberadaannya dan keluarganya, namun untuk memperluas rumahnya, sang lelaki ini merasa sayang untuk mengeluarkan uang.

Ia kemudian memutar otaknya, bagaimana caranya agar ia bisa memperluas rumahnya tanpa mengeluarkan banyak uang. Akhirnya, ia mendatangi Abunawas, seorang yang terkenal cerdik di kampungnya. Pergilah ia menuju rumah Abunawas.

Si lelaki : “Salam hai Abunawas, semoga engkau selamat sejahtera.”

Abunawas : “Salam juga untukmu hai orang asing, ada apa gerangan kamu mendatangi kediamanku yang reot ini ?”

Si lelaki lalu menceritakan masalah yang ia hadapi. Abunawas mendengarkannya dengan seksama. Setelah si lelaki selesai bercerita, Abunawas tampak tepekur sesaat, tersenyum, lalu ia berkata :

“Hai Fulan, jika kamu menghendaki kediaman yang lebih luas, belilah sepasang ayam, jantan dan betina, lalu buatkan kandang di dalam rumahmu. Tiga hari lagi kau lapor padaku, bagaimana keadaan rumahmu.”

Si lelaki ini menjadi bingung, apa hubungannya ayam dengan luas rumah, tapi ia tak membantah. Sepulang dari rumah Abunawas, ia membeli sepasang ayam, lalu membuatkan kandang untuk ayamnya di dalam rumah. Tiga hari kemudian, ia kembali ke kediaman Abunawas, dengan wajah berkerut.

Abunawas : “Bagaimana Fulan, sudah bertambah luaskah kediamanmu?”

Si lelaki : “Boro boro ya Abu. Apa kamu yakin idemu ini tidak salah? rumahku tambah kacau dengan adanya kedua ekor ayam itu. Mereka membuat keributan dan kotorannya berbau tak sedap.”

Abu nawas : “( sambil tersenyum ) Kalau begitu tambahkan sepasang bebek dan buatkan kandang di dalam rumahmu, lalu kembalilah kemari tiga hari lagi.”

Si lelaki terperanjat. Kemarin ayam, sekarang bebek, memangnya rumahnya peternakan, apa?, atau si cerdik Abunawas ini sedang kumat jahilnya?

Namun seperti saat pertama kali, ia tak berani membantah, karena ingat reputasi Abunawas yang selalu berhasil memecahkan berbagai masalah. Pergilah ia ke pasar, dibelinya sepasang bebek, lalu dibuatkannya kandang di dalam rumahnya. Setelah tiga hari ia kembali menemui Abunawas.

Abunawas : “Bagaimana Fulan, kediamanmu sudah mulai terasa luas atau belum ?”

Si lelaki : “Aduh Abu, ampun, jangan kau mengerjai aku. Saat ini adalah saat paling parah selama aku tinggal di rumah itu. Rumahku sekarang sangat mirip pasar unggas, sempit, padat, dan baunya bukan main.”

Abunawas : “Waah, bagus kalau begitu. Tambahkan seekor kambing lagi. Buatkan ia kandang di dalam rumahmu juga, lalu kembali kesini tiga hari lagi.”

Si lelaki : “Apa kau sudah gila, Abu? Kemarin ayam, bebek dan sekarang kambing. Apa tidak ada cara lain yang lebih normal?”

Abunawas : “Lakukan saja, jangan membantah.”

Lelaki itu tertunduk lesu, bagaimanapun juga yang memberi ide adalah Abunawas, sicerdik pandai yang tersohor, maka dengan pasrah pergilah ia ke pasar dan membeli seekor kambing, lalu ia membuatkan kandang di dalam rumahnya. Tiga hari kemudian dia kembali menemui Abunawas.

Abunawas : “Bagaimana Fulan ? Sudah membesarkah kediamanmu ?”

Si lelaki : “Rumahku sekarang benar-benar sudah jadi neraka. Istriku mengomel sepanjang hari, anak-anak menangis, semua hewan-hewn berkotek dan mengembik, bau, panas, sumpek, betul-betul parah. Ya Abu, tolong aku, Abu, jangan suruh aku beli sapi dan mengandangkannya di rumahku, aku tak sanggup ya Abu.”

Abunawas : “Baiklah, kalau begitu, pulanglah kamu, lalu juallah kambingmu kepasar, besok kau kembali untuk menceritakan keadaan rumahmu.”

Si lelaki pulang sambil bertanya-tanya dalam hatinya, kemarin disuruh beli, sekarang disuruh jual, apa maunya si Abunawas. Namun, ia tetap menjual kambingnya ke pasar. Keesokan harinya ia kembali ke rumah Abunawas.

Abu nawas : “Bagaimana kondisi rumahmu hari ini ?”
Si lelaki :”Yah, lumayan lah Abu, paling tidak bau dari kambing dan suara embikannya yang berisik sudah tak kudengar lagi.”

Abu nawas : “Kalau begitu juallah bebek-bebekmu hari ini, besok kau kembali kemari”

Si lelaki pulang ke rumahnya dan menjual bebek-bebeknya ke pasar. Esok harinya ia kembali ke rumah Abunawas.

Abunawas : “Jadi, bagaimana kondisi rumahmu hari ini?”

Si lelaki : “Syukurlah Abu, dengan perginya bebek-bebek itu, rumahku jadi jauh lebih tenang dan tidak terlalu sumpek dan bau lagi. Anak-anakku juga sudah mulai berhenti menangis.”

Abunawas. “Bagus. Kini juallah ayam-ayammu ke pasar dan kembali besok ”

Si lelaki pulang dan menjual ayam-ayamnya ke pasar. Keesokan harinya ia kembali dengan wajah yang berseri-seri ke rumah Abunawas.

Abunawas : “Kulihat wajahmu cerah hai Fulan, bagaimana kondisi rumahmu saat ini?”

Si lelaki :”Alhamdulillah ya Abu, sekarang rasanya rumahku sangat lega karena ayam dan kandangnya sudah tidak ada. Kini istriku sudah tidak marah-marah lagi, anak-anakku juga sudah tidak rewel.”

Abunawas : “(sambil tersenyum) nah nah, kau lihat kan, sekarang rumahmu sudah menjadi luas padahal kau tidak menambah bangunan apapun atau memperluas tanah banguanmu. Sesungguhnya rumahmu itu cukup luas, hanya hatimu sempit, sehingga kau tak melihat betapa luasnya rumahmu.

Mulai sekarang kau harus lebih banyak bersyukur, karena masih banyak orang yang rumahnya lebih sempit darimu. Sekarang pulanglah kamu, dan atur rumah tanggamu, dan banyak-banyaklah bersyukur atas apa yang dirizkikan Tuhan padamu, dan jangan banyak mengeluh.”

Si lelaki pun termenung sadar atas segala kekeliruannya, ia terpana akan kecendikiaan sang tokoh dan mengucapkan terima kasih pada Abunawas.
=====================

Demikianlah semoga bermanfaat untuk kita semua. Amin ya Robbal 'Alamin....

Jumat, 15 Desember 2017

Terbaru 2020 - Cinta Sejati Tsauban Dengan Nabi Muhammad SAW

Berita Islam




Seorang hamba sahaya bernama Tsauban amat menyayangi dan merindui Nabi Muhammad saw. Sehari tidak berjumpa Nabi, dia rasakan seperti setahun. Kalau boleh dia hendak bersama Nabi setiap masa. Jika tidak bertemu Rasulullah, dia amat berasa sedih, murung dan seringkali menangis. Rasulullah juga demikian terhadap Tsauban. Baginda mengetahui betapa hebatnya kasihsayang Tsauban terhadap dirinya.

Suatu hari Tsauban berjumpa Rasulullah saw. Katanya "Ya Rasulullah, saya sebenarnya tidak sakit, tapi saya sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu denganmu walaupun sekejap. Jika dapat bertemu, barulah hatiku tenang dan bergembira sekali. Apabila memikirkan akhirat, hati saya bertambah cemas, takut-takut tidak dapat bersama denganmu. Kedudukanmu sudah tentu di syurga yang tinggi, manakala saya belum tentu kemungkinan di syurga paling bawah atau paling membimbangkan tidak dimasukkan ke dalam syurga langsung. Ketika itu saya tentu tidak bersua muka denganmu lagi."

Mendengar kata Tsauban, baginda amat terharu. Namun baginda tidak dapat berbuat apa-apa kerana itu urusan Allah. Setelah peristiwa itu, turunlah wahyu kepada Rasulullah saw, bermaksud "Barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, maka mereka itu nanti akan bersama mereka yang diberi nikmat oleh Allah iaitu para nabi, syuhada, orang-orang soleh dan mereka yang sebaik-baik teman." Mendengarkan jaminan Allah ini, Tsauban menjadi gembira semula.


Moral & Iktibar

Cinta kepada Rasulullah adalah cinta sejati yang berlandaskan keimanan yang tulen
Mencintai Rasul bermakna mencintai Allah
Kita bersama siapa yang kita sayangi. Jika di dunia sayangkan nabi, insyallah kita bersama nabi di akhirat nanti
Hati yang dalam kecintaan terhadap seseorang akan merasa rindu yang teramat sangat jika tidak bertemu
Pasangan sahabat yang berjumpa dan berpisah kerana Allah semata-mata akan mendapat naungan Arasy di hari akhirat kelak
Rasulullah amat mengetahui mana-mana umatnya yang mencintai baginda, meskipun baginda sudah wafat.
Rasulullah memberi syafaat kepada sesiapa di antara umatnya yang mengasihi baginda
Sebaik-baik sahabat ialah mereka yang berkawan di atas landasan keagamaan dan semata-mata kerana Allah.

Sumber: Kumpulan Kisah Teladan App

Senin, 30 Mei 2016

Terbaru 2020 - Teladan dari Kondisi Negara Islam dibawah Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw

Berita Islam











Oleh : Muhammad Yusron Mufid

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Q.S. Al Ankabut : 2-3)

Sebagai muslim, tentu tidak ada yang patut kita teladani selain peri kehidupan nabi Muhammad S.A.W. dalam segala aspek kehidupan. Tidak hanya dalam hal ritual tetapi dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Seorang ilmuwan barat bernama Michael Hart menempatkan pribadi nabi Muhammad sebagai orang nomor 1 dari daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia mengatakan salah satu alasannya meskipun umat Islam bukanlah pemeluk agama terbanyak di dunia namun pribadi Muhammad bukan hanya sosok pemimpin spiritual, tetapi adalah seorang pemimpin politik dan seorang Negarawan. Meskipun sosoknya telah tiada, akan ada umat Islam yang meneruskan misi perjuangannya hingga hari kiamat tiba.

Menjadikan nabi Muhammad sebagai teladan berarti menjadikan beliau sebagai acuan dalam membangun cara hidup Islam. Jika kita mengamati pelaksanaan Islam dimasa Rasulullah maka kita akan tahu bahwa Islam yang Rasulullah ajarkan bukanlah Islam yang hanya terpusat kepada ibadah ritual saja melainkan adalah sistem hukum efektif yang berlaku di masyarakat. Bangunan Islam awal yang Rasulullah bangun di Madinah ditegakkan dengan pilar adanya masyarakat Islam yaitu warga Madinah, Pemerintahan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah, dan wilayah kekuasaan meskipun di periode awal dalam lingkup yang kecil yaitu wilayah madinah dan sekitarnya. Dengan demikian, pemberlakuan Islam di masa Rasulullah telah memenuhi unsur berdirinya sebuah Negara dengan adanya rakyat, pemerintahan dan wilayah kekuasaan. Sebuah Negara Islam dibawah kepemimpinan langsung Rasulullah Muhammad S.A.W.

Membayangkan Negara Islam di masa nabi pada awal berdirinya bukanlah Negara Islam (Kekhilafahan) pada masa Harun Ar Rasyid yang konon kehidupan pada waktu itu makmur dan kekayaan melimpah. Namun ternyata identik dengan perjuangan dan ketabahan. Ini menjadi pelajaran bagi kita agar orientasi yang dibangun untuk menegakkan Kekhilafahan Islam bukanlah untuk kemakmuran materi dan kemapanan ekonomi belaka tetapi orientasi utama adalah sebagai sarana untuk melaksanakan tauhid, kewajiban menyembah Allah, merealisasikan hukum-hukum dan syariatNya serta mengemban dakwah Islam seantero muka bumi. Disini saya akan bercerita sedikit bahwa para sahabat rela meninggalkan tanah air dan tumpah darahnya ke negeri yang seperti “Neraka” bukan karena sumber daya alam melimpah di negeri tersebut, motif ekonomi dan perut belaka akan tetapi demi ketulusan iman mereka, demi pembuktian cinta kepada Allah dan RasulNya. Mari kita simak.

Dari sisi kesehatan, negeri madinah pernah Allah berikan cobaan kepada penduduknya dengan wabah demam. Demam yang amat menyiksa para penduduknya terutama oleh kaum muhajirin yang memang tak terbiasa dengan cuaca di negeri lain. Seperti yang digambarkan oleh sahabat Am’r bin Ash ia berkata, “Ketika tiba di Madinah banyak dari kami yang meninggal dunia karena demam yang tinggi. Sampai ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar para sahabat sedang shalat sunnah sambil duduk, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat sambil duduk pahalanya separuh shalat sambil berdiri.”

Selain itu, Sahabat yang mulia Bilal pernah mendoakan laknat kepada para pembesar Negeri Mekkah yang telah mengusir mereka ke Negeri yang dilanda wabah penyakit yaitu negeri Madinah. Seperti yang dikisahkan Aisyah dalam Shahih Bukhari “Ya Allah laknatlah Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi‟ah dan Umayyah bin Khalaf sebagaimana mereka mengusir kami dari negeri kami ke negeri yang penuh wabah penyakit.”

Bahkan dari sebuah riwayat dari HR Bukhari disebutkan bahwa ada beberapa orang Islam yang kembali murtad karena tidak tahan terhadap wabah penyakit yang sedang melanda negeri Islam tersebut. Berkat Kejadian ini, Rasulullah bersabda bahwa hal ini adalah tabiat negeri Islam madinah yang dengannya akan menjadi proses seleksi siapa hamba-hambaNya yang tulus mencintai Allah dan RasulNya.
“Saya diperintahkan hijrah ke sebuah daerah yang memiliki banyak keutamaan dibanding daerah- daerah yang lain. Orang-orang menamakan tempat itu dengan nama Yatsrib. Itulah yang sekarang bernama Madinah. Ia menyeleksi manusia sebagaimana al-kiir menghilangkan bagian dari besi yang buruk.” (HR Bukhari).

Tak hanya dari sisi kesehatan, pun halnya dari sisi ekonomi. Dalam Shahih Muslim, ada riwayat dari Abu Sa‟id maula Al-Mahri, bahwa ia mendatangi Abu Sa‟id Al-Khudhriy pada malam yang panas. Ia meminta saran kepada Abu Sa‟id Al-Khudhriy akan meninggalkan Madinah dan mengeluhkan harga barang-barang yang mahal, keluarganya yang banyak dan memberi tahunya bahwa ia tidak sabar lagi menanggung kesulitan dan ujian Madinah. Maka Abu Sa‟id Al- Khudhriy menjawab, “Celaka kamu, saya tidak menyuruhmu melakukannya. Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seseorang bersabar menahan rasa lapar di Madinah lalu meninggal dunia melainkan saya akan menjadi penolong (syafii‟) atau saksi (syahiid) baginya kelak pada hari kiamat, jika ia seorang muslim.”

Bahkan diriwayatkan Dalam Shahih Bukhari pada suatu ketika bahwa para tamu mulia di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana seluruh sahabat melihat mereka jatuh tersungkur karena sakit saking laparnya, tidak punya apa-apa. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Orang yang paling baik terhadap orang-orang miskin adalah Ja‟far bin Abu Thalib. Ia sering mengunjungi kami dan memberikan makanan kepada kami apa saja yang ada di dalam rumahnya. Sampai ia pernah memberikan ukkah (bejana kecil terbuat dari kulit biasanya untuk wadah mentega) yang sudah tidak ada apa- apanya, lalu kami menyobekinya kemudian kami menjilati apa yang tersisa”

Perlu para pembaca ketahui bahwa Ja’far bin Abi Thalib yang diriwayatkan pada cerita diatas baru datang ke Negeri Islam Madinah adalah setelah penaklukkan benteng Khaibar yaitu 7 tahun setelah berdirinya negeri Islam Madinah. Artinya dalam waktu 7 tahun kelaparan masih melanda negeri kaum muslimin.

Bahkan pemimpin Negaranya sendiri, manusia mulia Rasulullah S.A.W tak luput dari deraan rasa lapar yang luar biasa seperti yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim ‘dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Pada sauatu hari saya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya mendapati beliau sedang duduk berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Dan beliau mengikat perutnya dengan sebuah perban. Usamah berkata, “-Saya ragu-ragu- dengan sebuah batu.” Saya bertanya kepada beberapa sahabat, “Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat perutnya?” Mereka menjawab, “Karena lapar.”

Dari sisi keamanan pun Negara Islam dimasa Rasulullah ada dalam kondisi terhimpit dari segala penjuru oleh kepungan musuh-musuhNya, seperti yang diucapkan oleh pemimpin kaum Anshar kepada pengikutnya ketika mereka mempertimbangkan akan melindungi Rasulullah bahwa mereka akan menjadi musuh bersama segenap bangsa Arab. Penuh resiko militer dari penyerbuan mereka. Hingga akhirnya mereka paham dan tetap dengan Ikhlas mebaiat Rasulullah. Pun ketika Rasulullah dan para sahabatnya sudah di Madinah tetap dihantui rasa kecemasan terhadap keamanan hingga Rasulullah selalu membawa senjata di pinggangnya dan para sahabat menjaga Rasulullah di waktu malam.

Demikianlah gambaran singkat Kondisi Daulah Nabawiyah di masa awalnya yang amat memprihatinkan, saya tidak bisa membayangkan akan berapa kali Rakyat Madinah melakukan demonstrasi kepada Rasulullah karena urusan perut dan uang jika pola pikir mereka seperti rakyat sekarang. Ini juga menjadi pelajaran bagi Gerakan Islam yang memiliki cita-cita mulia yaitu tegaknya Kekhilafahan Islam bahwa para sahabat bisa begitu tabah dan sabar menghadapi kondisi yang demikian karena keberhasilan proses penanaman pemahaman (Tarbiyah) dari Rasulullah yang berorientasi kepada tauhid dan akidah Islam. Bukan karena iming-iming ekonomi, penguasaan SDA, BBM Murah, pendidikan terjangkau, bebas pajak, serta kemakmuran materi lainnya. Melainkan pendidikan yang ditanamkan Rasulullah kepada para sahabat adalah tentang tujuan hidup bahwa mereka diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah saja tanpa menyekutukanNya, tunduk kepada hukum-hukum dan syariatNya, mereka hidup untuk menjalani ujian, akan adanya hidup setelah mati serta keyakinan terhadap janji Allah akan menjayakanNya dimuka bumi jika bersabar dalam menjalani ujian dan kesulitan. Pemahaman itulah yang membuat para sahabat begitu tegar menghadapi segala bentuk musibah dan ujian.

Ini juga sebagai kritik kepada mereka yang menyatakan bahwa negara Islam layak berdiri ketika sudah benar-benar mampu melayani kebutuhan masyarakat baik pangan, sandang dan papan. Lalu bagaimana keadaan Negara Islam zaman Rasulullah yg amat memprihatinkan tsb ? Tidak lain bahwa Negara Islam layak berdiri karena kesadaran dan komitmen umatnya untuk menegakkan hukum Allah, menegakkan tauhid dan mencegah kemungkaran dan sekali lagi bukan karena motif perut dan uang.

Melihat pengorbanan para Sahabat, kita tentu patut malu karena banyak mengeluh ketika datang kesulitan dalam ketaatan. Padahal kesulitan yang kita alami belumlah seperti Rasulullah dan para sahabat yang mulia. Wallahua’lam

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar”. (QS. 3:142)



“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah“. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS 2:214)

Artikel : eramuslim.com

*Disarikan dari teks materi ceramah Abu Hamzah Al Muhajir dengan judul Daulah Nabawiyah